JudulNovel Tahun 30-an (Pujangga Baru) Ciri-ciri Angkatan 30-an (Pujangga Baru) 1. Menggambarkan pertentangan kehidupan orang-orang kota, soal emansipasi wanita. 2. Hasil karyanya mulai bercorak kebangsaan; memuat soal kebangunan bangsa. 3. Gaya bahasanya sudah tidak menggunakan perumpamaan klise, pepatah, peribahasa. 4. 2 Isi novel menampilkan persoalan yang dihadapi masyarakat kota. 3. Novel Angkatan 30-an menggambarkan cara menggunakan kebebasan dan fungsi kebebasan 4. Novel Angkatan 30-an tidak menggunakan pepatah, bahasa dalam novel lebih sering menggunakan ungkapan. Novel-novel modern memiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Gaya bahasa lebih lugas. 2. 2 Novel Angkatan 30-an. Angkatan 30-an (Pujangga Baru) merupakan angkatan yang berani menampilkan perubahan. Perubahan ini tercermin dalam tema-tema yang diangkat tidak lagi terpengaruh oleh budaya dan adat masyarakat lama. Tokoh yang menonjol dalam angkatan ini antara lain, Armin Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisyahbana. KUMPULANJUDUL NOVEL ANGKATAN 20-30AN Ciri-ciri karya 20-an (Angkatan Balai Pustaka) 1. Menggambarkan tema pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda, soal pertentangan adat, soal kawin paksa, permaduan, dlll. Ciri-ciri Angkatan 30-an (Pujangga Baru) 1. Menggambarkan pertentangan kehidupan orang-orang kota, soal emansipasi wanita 2 KompetensiDasar yang relevan antara lain Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel yang dibacakan kelas IX semester 2 (BSNP 2006 49) Membandingkan Karakteristik novel angkatan 20-30an kelas IX semester 2 (BSNP 2006 51) dan Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan dengan indikator mampu mendata Vay Nhanh Fast Money. Novel adalah karangan prosa yang panjang, yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Dibandingkan dengan roman, model penceritaan novel tidak begitu terperinci. Ciri khas novel yaitu adanya perubahan nasib tokoh yang diceritakan. Sejarah novel Indonesia diawali sekitar tahun 1920-an, dengan pengarang seperti Marah Rusli, Merari Siregar, Sultan Takdir Alisjahbana, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Jamaluddin Adinegoro, Hamka Abdul Malik Karim Amrullah, Sariamin Selasih/Seleguri, Suman Hs. Hasibuan, Tulis Sutan Sati, Mohammad Kasim, dan Aman Datuk Madjoindo. Novel Indonesia tahun 1920 sampai 1930-an termasuk dalam angkatan Balai Pustaka. Balai Pustaka merupakan sebuah komisi Commissie voorchet volkslectuur yang didirikan pada tanggal 14 September 1908. Tujuan pendirian Balai Pustaka adalah 1 memberi bacaan kepada rakyat untuk menyaingi penerbitan Cina, yang dianggap membahayakan pemerintah Belanda serta 2 memasukkan tujuan utama pihak penjajah ke dalam jiwa bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa syarat naskah yang masuk ke Balai Pustaka, yakni netral dari agama, tidak mengandung politik, dan tidak menyinggung kesusilaan. Untuk meningkatkan pemahaman tentang novel Indonesia tahun 1920 sampai 1930-an berikut ini adat, kebiasaan, dan etika yang terdapat dalam beberapa novel angkatan Balai Pustaka. a. Adat Adat adalah suatu aturan/peraturan yang lazim diturut/dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya. Adat inilah yang akan menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Sebaliknya, jika ada tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya akan dijauhi atau dihukum sesuai adat yang berlaku. b. Kebiasaan Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi masyarakat yang turun-temurun dilakukan. Kebiasaan terkait latar belakang budaya dalam cerita. c. Etika Etika berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau buruk, atau sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan. d. Bahasa Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan banyak dijumpai dalam karya sastra angkatan 20-an. 1. Novel Azab dan SengsaraAzab dan Sengsara adalah sebuah novel tahun 1920 yang ditulis oleh Merari Siregar dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit besar di Indonesia kala itu. Novel ini mengisahkan sepasang kekasih, Amiruddin dan Mariamin, yang tidak dibolehkan menikah dan menderita. Novel ini dianggap sebagai novel modern pertama dalam bahasa Indonesia. Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut. Menikahkan anak secara paksa jodoh dipilihkan orang tua Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin. Poligami laki-laki dengan istri lebih dari satu Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua. Budaya makan keluarga selalu dilakukan bersama-sama lengkap; ayah, ibu, dan anak. Jika ada sesuatu hal yang di luar kebiasaan terjadi, maka anak diperbolehkan makan terlebih dahulu. Sementara istri harus tetap mengunggu suaminya. Anak harus menurut perintah ibunya. Kutipannya sebagai berikut. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut. Anak sangat berbakti kepada orang tuanya. Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya. Isteri sangat taat kepada suaminya. Meskipun Mariamin ditipu oleh Kasibun yang mengaku perjaka, ia tetap berbakti kepada suaminya. Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut. Telekomunkasi jarak jauh asih menggunakan surat atau telegram Pernikahan dipandang dari bibit, bebet, dan bobot Anak laki-laki biasanya pergi merantau untuk mencari pekerjaan 2. Novel Sengsara Membawa Nikmat Sengsara Membawa Nikmat merupakan judul sebuah novel karangan Tulis Sutan Sati yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1929. Dengan latar belakang adat budaya Minangkabau, novel ini berkisah tentang pengembaraan seorang tokoh utamanya yang bernama Midun. Gambaran pengembaraan yang diceritakan cukup realistis serta tidak terpaku di wilayah Sumatera saja namun juga sampai ke pulau Jawa. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Sengsara Membawa Nikmat" sebagai berikut. Agama dijunjung tinggiterutama Islam. Kehidupan masyarakatnya bergotong royong Penguasa sering semena-mena, bahkan berbuat kejam. Adat yang bisa ditemukan pada novel "Sengsara Membawa Nikmat" sebagai berikut. Mengenai warisan, harta benda yang ditinggalkan oleh yang meninggal menjadi hak/diambil alih oleh keluarga asal bukan keluarga setelah menikah Sumatra Aturan adat sangat ketat, dan bagi yang melanggar hukumannya berat Penyerahan kekuasaan terhadap penerusnya dalam suatu daerah diserahkan oleh pemegang jabatan/kekuasaan sebelumnya Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Sengsara Membawa Nikmat" sebagai berikut. Para pemuda memainkan permainan sepak raga prmainan bola kaki Masih jaman penjajahan Belanda Hampir semua pemuda di daerah tersebut mengenal ilmu bela diri Banyak penduduk yang tidak bisa membaca 3. Novel Salah Asuhan Salah Asuhan adalah sebuah novel Indonesia karya Abdoel Moeis yang diterbitkan tahun 1928 oleh Balai Pustaka. Novel yang kala itu terbit di Hindia Belanda ini sekarang telah dianggap sebagai salah satu karya sastra Indonesia modern awal terbaik sepanjang masa. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Penolakan secara halus dan tidak menyakiti hati saat ada yang menyatakan perasaan. Bukti Ketika Hanafi mengemukakan isi hatinya. Belenggu Kebiasaan Bukti Sementara itu. walaupun mereka telah mengetahui bahwa Hanafi akan menikah dengan Corrie. Corrie menolak secara halus. Meminta maaf apabila berbuat salah. Bukti Maka ia meminta kepada istrinya supaya disediakan kain kafan pembungkus mayatnya. Adat yang bisa ditemukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Dilarang menikah beda suku. Bukti Corrie merasa tidak mungkin menjalin hubungan dengan Hanafi karena perbedaan budaya di antara mereka. Sebagai seorang istri, sudah sewajarnya menunggu suami di rumah. Seorang istri bagaimanapun juga harus bersikap hangat pada suami. Rapiah dan ibunya tetap menunggu kedatangan Hanafi di kampungnya. Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Hanafi Bergaul dengan orang Selama di Betawi, Hanafi dititipkan pada keluarga Belanda,sehingga dia setiap hari dididik secara Belanda dan bergaul dengan orang-orang Belanda. Pergaulan Hanafi setamat HBS juga tidak terlepas dari lingkungan orang-orang Eropa. Corrie Mengobrol bersama Mereka suka mengobrol berdua. Rapiah Menerima perlakuan suaminya dengan pasrah. Bukti Namun, Rapiah tak pernah melawan dan semua perlakuan Hanafi diterimanya dengan pasrah. Ibu Hanafi Memperhatikan Hanafi. Bukti Walaupun ibu Hanafi hanyalah seorang janda, dia menginginkananaknya menjadi orang pandai. Karena itu, ia bermaksud menyekolahkan Hanafi setinggi-tingginya. Selama sakit, Hanafi banyak mendapatkan nasihat dari ibunya. 4. Novel Siti Nurbaya Sitti Nurbaya adalah sebuah novel Indonesia yang ditulis oleh Marah Rusli. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit nasional negeri Hindia Belanda, pada tahun 1922 Kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Siti Nurbaya" sebagai berikut. Ia terbiasa memakai topi putih yang seringkali dipakai bangsa Belanda. Bukti kutipan "Topinya topi rumput putih yang biasa dipakai bangsa belanda" Seorang gadis yang selalu mengenakan gaun terbuat dari kain batis dengan motif kembang kembang berwarna merah jambu. Bukti kutipan "Gaunnya baju nona-nona terbuat dari kain batis yang berkembang merah jambu" Orang zaman dahulu merokok dengan cara yang berbeda dengan orang-orang zaman sekarang. Bukti kutipan "Dekat putri ini duduk saudaranya yang bungsu, Sutan Hamzah sedang menggulung rokok dengan daun nipah." Orang padang saat berbicara seringkali menggunakan peribahasa yang penuh arti. Bukti kutipan "Akan tetapi sebab ia seorang yang 'pandai hidup' sebagai kata peribahasa Melayu, selalulah rupanya seperti orang yang tak pernah kekuranagan. Seorang istri di masyarakat padang merupakan hamba dari laki-laki dan laki-laki itu adalah tuannya perempuan. Bukti kutipan "Bukankah laki-laki itu tuan perempuan dan perempuan itu hamba laki-laki? Tentu saja mereka boleh berbuat sekehendak hatinya kepada kita; disiksa, dipukul, dan didera dengan tiada diberi belanja yang cukup dan rumah tangga yang baik." Adat yang bisa ditemukan pada novel "Siti Nurbaya" sebagai berikut. Jika akan melaksanakan proses perdukunan, hendaklah harus menyiapkan syarat-syaratnya. Bukti kutipan "Baiklah... Hamba mohon perasapan dan kemenyan serta air bersih secambung dan sirih kuning tujuh lembar." Di Padang, pernikahan dipandang sebagai perniagaan, laki-laki dibeli oleh perempuan, karna perempuan memberi uang kepada laki-laki. Bukti kutipan "Perkawinan itu dipandang sebagai perniagaan, disini laki-laki dibeli oleh perempuan" Di gunung Padang terdapat banyak kuburan, dan pada moment tertentu, tempat itu ramai dikunjungi pendatang yang ingin mendoakan arwah yang telah pergi. Bukti kutipan " Memang digunung itu banyak kuburan, sedang dipuncaknya adalah sebuah makam, didalam suatu gua batu, tempat yang berkaul dan bernazar. Sekali setahun, saat-saat akan masuk puasa pada waktu hari raya, penuhlah gunung itu dengan penziarah..." Orang besar, penghulu/orang berpangkat tinggi yang memiliki istri lebih dari 1 sudah banyak, sebab itulah adat di Padang, sebab dengan memiliki banyak istri, itu berarti dia meiliki banyak keturunan. Bukti kutipan "Sekalian penghulu di Padang ini beristeri 2,3, sampai 4 orang. Bukankah harus orang besar itu beristri banyak?" Saat ingin makan, sebelumnya harus menyiapkan makan terlebih dahulu dan bersikap seperti ada yang sudah ada. Bukti kutipan ".... menyediakan makanan diatas tikar rumput yang telah dialas dengan kain putih, terbentang di tengah rumah. Beberapa lama kemudian, duduklah Ahmad Maulana makan dihadapi istrinya, sedang Alimah & Nurbaya duduk jauh sedikit dari sana...." Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Salah Asuhan" sebagai berikut. Janganlah kamu bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Bukti kutipan "Tatkala ayahku telah jatuh miskin, pura-pura kau tolong Ia dengan meminjamkan uang kepadanya, tetapi maksudmu yang sebenarnya hendak menjerumuskannya ke jurang yang terlebih dalam, karena hatimu terlebih bengis daripada setan itu, belum puas lagi." Apabila ada tamu yang datang hendaknya kita menyediakan minuman dan makanan kecil. Bukti kutipan "Sementara itu segala kue-kue yang lezat rasanya, diedarkanlah, dibawa kepada sekalian tamu. Demikian pula minum-minuman..." Sebagai anak muda, hendaklah kita menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Bukti kutipan "Ah jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua hari bekerja pada ayahmu. melainkan telah bertahun-tahun. Dan belum ada ia berbuat kesalahan apa-apa." Jika sedang bermain dengan teman, sebaiknya kita menjaga tingkah laku. Bukti kutipan "Baiklah, tetapi hati-hati engkau menjaga dirimu dan si Nurbaya! Janganlah engkau berlaku yang tiada senonoh!" Jika orang tua kita sedang berbincang dengan tamu, dan kita tidak berkepentingan, sebaiknya kita masuk dan tidak perlu mendengarkan pembicaraan mereka. Bukti kutipan "Kemudian masuklah ia kedalam biliknya. Rupanya ia mengerti bahwa orangtuanya itu sedang memperbnincangkan hal yang tak boleh didengarnya." 5. Novel Salah Pilih Adat yang bisa ditemukan pada novel "Salah Pilih" sebagai berikut. Jika sedarah dilarang menikah, karena Asri dan Asnah sudah tinggal bersama maka penduduk desa menganggap bahwa mereka adalah sedarah sebenarnya tidak, tidak ada ikatan darah apapun. Karena merasa tidak bersalah mereka akhirnya menikah dan mereka harus keluar dari Minangkabau. Harta dan kedudukan, Rangkayo Saleah tidak menyetujui pernikahan anaknya karena mengira Kaharuddin menikah dengan wanita yang tak tentu asal usulnya sebenarnya wanita tersebut adalah anak saudagar batik. Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Salah Pilih" sebagai berikut. Anak yang berbakti terhadap orang tuanya, meskipun Asri ingin melanjutkan sekolah sampai menjadi dokter namun, karena ibunya memintanya untuk pulang ke kampung halamannya dan bekerja di kampung. Akhirnya Asri menuruti keinginan ibunya. Kita harus tegar menghadapi cobaan, sikap Asnah yang sabar dan tulus mencintai Asri membuahkan hasil yang manis walaupun ia harus menghadapi berbagai cacian dari Saniah. Berkat keteguhan dan kesabaran hati Asnah dalam mencintai Asri membawa kebahagiaan di akhir cerita. Kita harus bekerja keras, awal kepindahannya di Jawa, Asri dan Asnah dijauhi oleh orang-orang yang sama-sama berniaga di Jawa. Karena kerja keras mereka, akhirnya mereka dapat memajukan usahanya. Bertanggung jawab, Asri tidak berniat sedikit pun untuk menceraikan Saniah meskipun Saniah bukanlah jodoh yang terbaik. 0% found this document useful 0 votes7K views8 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes7K views8 pagesKumpulan Judul Novel Angkatan 20-30anJump to Page You are on page 1of 8 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 7 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Diantara kamu pernah membaca novel. novel yang akan kita bahas kali ini adlaah novel Angkata 20-an dan 30-an. Novelnovel apa saja yang termasuk Angkatan 20-an? Dan novel apa saja yang termasuk Angkatan 30-an? Mari kita pelajari bersama. 1. Novel Angkatan 20-an Pernahkah kamu membaca novel-novel Angkatan 20-an? Angkatan 20-an sering disebut dengan Angkatan Balai Pustaka. Disebut dengan Angkatan Balai Pustaka karena Balai Pustaka adalah satu-satunya penerbit yang berperan dan berdiri pada pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1917. Karya sastra yang dihasilkan umumnya berupa roman dan novel. Karya-karya tersebut masih terpengaruh unsur-unsur sastra lama yang menjadi latar cerita. Unsur-unsur tersebut antara lain adat, kebiasaan, etika, dan bahasa. Contoh-contoh karya sastra lama Angkatan 20-an Novel Azab dan Sengsara a. Sitti Nurbaya, karya Marah Rusli, b. Sengsara Membawa Nikmat, karya Tulis Sutan Sati, c. Salah Asuhan, karya Abdul Muis, d. Azab dan Sengsara, karya Merari Siregar, e. dan sebagainya. 2. Novel Angkatan 30-an Angkatan 30-an Pujangga Baru merupakan angkatan yang berani menampilkan perubahan. Perubahan ini tercermin dalam tema-tema yang diangkat tidak lagi terpengaruh oleh budaya dan adat masyarakat lama. Tokoh yang menonjol dalam angkatan ini antara lain, Armin Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Karya sastra yang menonjol pada saat itu adalah novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Contoh-contoh karya sastra Angkatan 30-an a. Anak Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Ali syahbana, b. Belenggu, karya Armin Pane, c. Dijemput Mamaknya, karya Hamka, d. I Swasta Setahun di Bedahulu, karya Pandji Trisna, e. Percobaan Setia, karya Suman 3. Mengidentifikasi Kebiasaan, Adat, dan Etika dalam Novel Angkatan 20 dan 30-an a. Adat Adat adalah suatu aturan/peraturan yang lazim diturut/ dilakukan sesuai dengan situasi dan waktu tertentu. Adat diartikan sebagai hukum tak tertulis sehingga bersifat mengikat masyarakat penggunanya. Adat inilah yang akan menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jika tokoh mematuhi adat yang berlaku, maka ia dianggap tokoh yang baik dan layak ditiru. Sebaliknya, jika ada tokoh yang menentang atau tidak taat adat biasanya akan dijauhi atau dihukum sesuai adat yang berlaku. b. Kebiasaan Kebiasaan merupakan budaya atau tradisi masyarakat yang turun-temurun dilakukan. Kebiasaan terkait latar belakang budaya dalam cerita. c. Etika Etika berkaitan dengan apa yang dianggap baik atau buruk, atau sopan-tidak sopan pada kebiasaan tokoh-tokoh ceritanya. Etika berkaitan dengan moral atau perilaku yang terpengaruh oleh adat dan kebiasaan. d. Bahasa Bahasa yang digunakan pada karya sastra Angkatan 20-an dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan ungkapan dan perbandingan sebagai bentuk kiasan banyak dijumpai dalam karya sastra angkatan 20-an. Hasil karya sastra merupakan cermin zamannya. Sastra yang diciptakan pada masa sekarang tentu sangat berbeda dengan karya sastra yang diciptakan pada tahun 20-an atau 30-an. Tahun 20-an atau 30-an merupakan masa penjajahan sehingga karya sastra yang dihasilkan menggambarkan kehidupan pada masa penjajahan dengan liku-likunya. Kebiasaan, adat, dan etika yang dilukiskan pun merupakan pelukisan pada masa itu. Dengan demikian kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir tokoh-tokohnya tentu berbeda dengan novel yang diciptakan pada sekarang. Namun demikian tentu saja masih banyak juga adat, kebiasaan, etika dan pola pikir masa itu yang masih relevan dengan situasi sekarang. Dengan mendalami kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir yang terdapat dalam novel 20- atau 30-an kemudian membandingkan dengan situasi sekarang, kita dapat melihat bagaimana perkembangannya sampai sekarang ini. Hal ini penting dipelajari agar kita mampu mempertahankan nilai-nilai yang baik dan relevan dengan sekarang dan menghindari atau menjauhi kebiasaan, adat, etika, dan pola pikir yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat kita, baik nilai moral, sosial, maupun nilai agama. Itu sebabnya kompetensi dasar ini penting untuk kamu kuasai dengan baik. Pengertian Mengidentifikasi =mengenali Kebiasaan = kegaliban, kelaziman, kerutinan Adat = budaya, tata cara, aturan Etika = etiket, akhlak, budi pekerti, tata susila kesopanan, kesantunan. Adat dan Kebiasaan dalam Novel Angkatan 20-30an Setiap zaman mempunyai adat dan kebiasaannya masing-masing, misalnya dalam cara berpakaian, makan, bertamu, upacara pernikahan, syukuran kelahiran anak, dan sebagainya. Kebiasaan satu masyarakat dapat diketahui dari karya-karya yang diciptakan pada masyarakat itu. Sebagai contoh, perhatikan cuplikan berikut. Berkali-kali ia bangun dari tidurnya. Lalu, memasang lampu listrik dan menulis surat panjang kepada Corrie. Tapi, dirinya semakin khawatir saja. Maka, dengan tidak berpikir panjang, dibukanyalah lemari pakaiannya. Lalu, diisinya sebuah koper kulit dengan pakaian dan pelbagai barang yang berguna bagi perjalanannya. Hanafi akan berangkat ke Semarang. Dengan tidak dibacanya lagi, surat itu dibungkusnya, diletakkannya di atas meja beranda muka. Jika ia otak tenang di hati, kemudian dapat pula membaca suratnya itu niscahaya Hanafi akan heran, bagaimanakah keadaan otaknya masa itu. Karena surat amat kacau isinya dan tidak berkentuan ujung pangkalnya. Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928 Terdapat beberapa alat teknologi yang dinyatakan dalam cuplikan di atas, yakni lampu listrik, surat, lemari pakaian, dan koper kulit. Dengan demikian, berdasarkan cerita itu, alat-alat seperti lampu listrik dan lemari pakaian sudah dikenal pada tahun 1920-1930an. Hanya saja bentuknya yang mungkin berbeda. Dari sebuah cerita, kita pun dapat mengenal adat dan kebiasaan satu masyarakat. Seperti tampak dalam cerita tersebut, yaitu – Pakaian disimpan dalam lemari – Bila bepergian jauh membawa koper kulit Kaitan Isi Novel dengan Kehidupan Nyata Cerita dalam novel merupakan hasil imajinasi. Meskipun demikian, hal itu tidak lepas dari pengalaman nyata pengarangnya, tidak lepas pula dari adat kebiasaan yang berlaku pada masyarakatnya. Sebagai contoh, perhatikan kembali cuplikan novel Salah Asuhan. Memasang lampu listrik ketika akan menulis surat merupakan peristiwa yang biasa dilakukan ketika malam hari. Begitu pun dengan mengisi koper dari pakaian yang diambil dari dalam lemari, juga merupakan peristiwa yang sering dijumpai dalam kehidupan nyata. Karakteristik Novel Angkatan 20-30an Karya-karya sastra yang lahir pada periode 1920-1930an sering disebut sebagai karya sastra Angkatan Dua Puluhan atau Angkatan Balai Pustaka. Disebut Angkatan Dua Puluhan sebab novel yang pertama kali terbit adalah pada tahun 1920, yakni novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Disebut juga Angkatan Balai Pustaka area karya-karyanya banyak yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka. Peran Balai Pustaka dalam menghidupkan dan memajukan perkembangan sastra Indonesia memang sangat besar. Penerbitan pertamanya adalah buku novel Azab dan Sengsara dan kemudian berpuluh-puluh novel lain diterbitkan pula termasuk buku-buku sastra daerah. Selain disebut Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Dua Puluhan disebut juga Angkatan Siti Nurbaya karena novel yang paling laris dan digemari masyarakat pada masa itu adalah novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli. Novel-novel yang lahir pada periode tersebut memiliki persamaan-persamaan umum, yakni banyak yang bertemakan masalah adat dan kawin paksa. Novel-novel tersebut juga banyak yang berlatar daerah Minangkabau. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh latar belakang pengarangnya mayoritas berasal dari daerah Sumatera Barat. Ciri lainnya dapat dilihat pada cuplikan berikut. Pada malam itulah Hanafi baru dapat “menguak” utangnya kepada ibunya, yaitu utang yang kira-kira belum akan langsung terbayar, meskipun ia memperbuat mahligai tinggi bagi ibunya. Hanafi mengakulah sekarang bahwa ibunya bukan orang bodoh, oleh karena itulah timbullah sebab adab dan cinta kepada orang itu. Sebab selamanya itu, ibunya hanya memperturutkan saja segala kehendaknya dengan tidak melakukan kekerasan sekali juga. Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928 Novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1928. Dari bahasanya saja tampak bahwa novel tersebut merupakan karya tempo dulu. Banyak kata dan kalimat yang tidak dipahami. Walaupun sama-sama menyatakan hubungan penyebaban, maksud dari kalimat-kalimat itu susah dicerna. Selain kata-katanya banyak yang telah usang, novel tahun 20-30an sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat klise sering dipakai. Susunan kata yang sejenis banyak digunakan oleh pengarang-pengarang dalam berbagai karyanya. Kata-kata itu misalnya pada satu hari, tatkala itu, wajahnya bermuram durja, berbagai-bagai kelakuan mereka, wajahnya cantik jelita, dsb. Ciri lainnya bahwa novel tahun 20-30an banyak yang menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini berbeda dengan karya-karya pada periode sebelumnya yang bahasanya itu lebih kaku. Perhatikan kutipan berikut. Hanafi menyesali dirinya tidak berhingga-hingga. Maka ditutupnyalah mukanya dengan kedua belah tangannya, lalu menangis mengisak-isak sambil berseru dalam hatinya. “Oh, Corrie, Corrie istriku! Di manakah engkau sekarang? Lihatlah suamimu menyadari untung, lekaslah kembali, supaya kita menyambung hidup kembali seperti dulu.” Salah Asuhan, Abdul Muis, 1928 Bahasa percakapan sehari-hari dalam cuplikan di atas, antara lain tampak pada perkataan tokoh Hanafi. Kata-kata tersebut merupakan ragam bahasa percakapan. Hal ini terutama pada kata seru oh yang sampai sekarang pun kita sering menggunakannya ketika bercakap-cakap. Maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel angkatan 20-30an adalah sebagai berikut. Tema permasalahan adat, romantisme, kawin paksa Pengarang berlatar belakang Minangkabau Bahasa bersifat klise, percakapan sehari-hari Sumber Tri Retno Murniasih dan Sunardi. 2008. Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta Pusat Perbukuan Depdiknas. 129-134. Kosasih dan Restuti. 2008. Mandiri Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta Penerbit Erlangga. 123-130. Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari materi pada subbab ini, kamu diharap dapat mengidentifikasi novel angkatan 20-30an dengan baik dan tepat. Indonesia mempunyai banyak peninggalan karya sastra literer dari para sastrawan yang nama mereka abadi hingga kini. Sebagai generasi muda, ada baiknya kita mempelajari warisan tersebut sebagai refleksi akan kehebatan pendahulu kita, dan nilai-nilai yang terkandung dalam dokumen sosial tersebut tentu ada yang masih relevan dengan kehidupan saat ini. Pada pertemuan ini kita mempelajari novel angkatan 1920-an. Penamaan Angkatan Balai Pustaka terjadi karena karya-karya mereka dimuat dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Adapun ciri pembeda antara novel angkatan 1920-1930 dan novel masa kini bisa dibedakan melalui a. tema yang diangkat, b. tokoh-tokoh yang dikisahkan, c. konflik yang terjadi, d. setting/latar yang ditampilkan, e. pilihan kata, f. gaya bahasa. 3. Menyatakan berulang-ulang; contoh berteriak-teriak, menggaruk-garuk. 4. Menyatakan saling; contoh pukul-memukul, tinju-meninju, tikam-menikam. 5. Menyatakan agak; contoh keabu-abuan, kemerah-merahan. 6. Menyatakan sangat; contoh sekencang-kencangnya, erat-erat, kuat-kuat. 7. Menyatakan himpunan; contoh satu-satu, dua-dua, tiga-tiga. 8. Menyatakan meskipun; contoh Mentah-mentah ia makan juga jambu tersebut. Kata-kata berikut kembangkan dalam sebuah kalimat dan tentukan arti perulangannya! 1. duduk-duduk 6. menulis-nulis 11. hati-hati 2. tidur-tidur 7. centang-perentang 12. kekuning-kuningan 3. huru-hara 8. carut-marut 13. berjalan-jalan 4. leluhur 9. undang-undang 14. tikam-menikam 5. sia-sia 10. tunggang-langgang 15. adik-adik Bacalah petikan novelangkatan 20-an berikut! Pertemuan Jodoh Karya Abdoel Moeis ... ”Oh, suatu pun tak ada yang akan menjadi kuatir. Masa dahulu memang kuranglah amannya di situ, hingga sado-sado pun acapkali ditahan oleh penyamun. Apalagi yang mengendarai kereta api tentu harus menaruh kuatir buat lalu di sana. Tapi sekarang sudah didirikan pos polisi di Jambatan Merah, dengan polisi yang bersenjatakan bolak-balik saja sepanjang jalan itu.” ”Oh, kalau demikian sungguh senang melalui jalan itu malam hari dengan kereta angin. Buat sebentar keluar kita dari keramaian kota, yang penuh dengan auto dan sekalian kendaraan lain, dan sesak pula oleh orang banyak.” ”Nanti kita menyimpang ke Gang Ketapang, melalui Petojo akhirnya bisa sampai pula ke tanah lapangan Gambir.” ”Oh,” kata Corrie dengan mengeluh, ”Jika badanku tidak terikat, ke Tanjung Priok pun aku suka. Jika sehari-harian duduk saja dalam kamar atau di sekolah, maka pelancungan keluar itu seolah-olah mengalirkan darah baru ke dalam tubuh. Otak pun berasa segar.” Dalam beramah-ramahan sampailah mereka ke Jambatan Merah. Sepanjang jalan teranglah cuaca, hingga rasa tak perlulah lentera-lentera jalan dinyalakan. Di Jambatan Merah, Corrie mengajak turun sebentar lalu memandanglah kedua anak muda itu ke sepanjang ”kanaal”, yang pada waktu itu berkilau-kilau warna airnya ditimpa oleh cahaya bulan yang terang-benderang. Di muka mereka terbentanglah padang luas, ditumbuhi oleh semak-semak,berkeliaran beribu-ribu kunang-kunang di situ. ”Sukakah engkau, bila kita melancung pada hari Minggu ke tepi laut di Neiuw Zandvoort, Corrie?” ”Sebenarnya aku sedang menghitung-hitung harimu buat tinggal di Betawi lagi, Hanafi. Alangkah sunyi kehidupanku, bila engkau kembali ke Sumatra Barat. Apakah hari Minggu yang akan datang engkau masih di sini?” ”Ya,Corrie. Kuhitung-hitung sudah lebih dari empat belas hari engkau di Betawi.” ”Sebenarnya, Corrie, tapi aku sudah minta tambah verlof.” ”Oh, apakah engkau belum dinyaakan sembuh oleh dokter? Baik-baik Hanafi, jika engkau bermaksud hendak menerima waris dari anjing gila itu, lebih dari engkau mesti memberi tahu daku!” ”Oh janganlah engkau takut Corrie. Untunglah diriku sudah terpelihara dari penyakit yang hebat itu. Tapi verlofku kuminta tambah, bukan karena penyakit itu.” ”Buat tinggal selama-lamanyadi Kota Betawi, Corrie!” ”Eh? Apakah engkau minta berhenti dari pekerjaanmu di Solok?” ”Belum, alngkah senang hatiku, bila jalan itu sudah terbuka.” ”Aku belum mengerti akan maksudmu, Hanafi?” ”Dengarlah, Corrie. Beberapa hari yang lalu aku sudah minta pindah ke Departemen BB di sini. Kata Chefafeeling, bahwa pindahan dari kantor Gewest ke Departemen itu tidaklah lazim; melainkan menantikan dahulu, apakah aku dapat ditempatkan di sini. Bila ada tempat, apakah aku minta berhenti dari jabatan sekarang, supaya sempat yang berkewajiban akan mengangkat dalam jabatan yang baru itu. Aku sendiri tidak mengerti apa perlunya mengambil jalan sepanjang jalan itu, tapi kata mereka itulah jalan yang lazim.” ”Ah, senang sekali hatiku, bila engkau sampai dapat pindah ke mari, Hanafi! Tapi... eh, ya ... anak istrimu, demikian juga ibumu, tentu kau suruh datang ke mari? Ya, eh, ya itulah yang sebaik-baiknya.” Dengan tidak disengajanya, Corrie sudah mengeluh,menarik napas panjang, lalu memandang kepada air, yang bergulung-gulung dan membuih keluar dari pintu air. Hanafi memandang pula pada permukaan air yang sedang berlaku di bawah kakinya itu, lalu berkata dengan mengeluh pula, ”Kira-kira mereka itu tidak datang ke Betawi,Corrie!” ”Eh?” ”Ya, tidak dapat kuterangkan kepadamu dengan sepatah dua patah kata saja. Tapi maksudku hendak meninggalkan mereka di Solok saja.” ”Tidak boleh jadi, Hanafi. Kewajiban orang yang sudah berumah tangga janganlah kau pandang enteng.” ”Itulah yang sudah aku menyebutnya, Corrie. Di dalam beberapa hari ini timbullah persabungan perasaan dan dalam kalbuku. Tak dapat aku mengatakan bagaimana bimbangnya rasa hatiku!” ”Ya, Hanafi! Aku memang ’anak Padang’, tahulah aku bagaimana kebiasaan orang Melayu terhadap perempuan yang dikawininya. Dengan tidak menaruh sesuatu keberatan, istri itu ditinggalkannya saja di kampung, sedang ia mengembara ke negeri orang, lalu beristri dan beranak pula di tempat pengembaraan itu. Tapi, perbuatan serupa itu bolehlah dilakukan oleh orang kampung yang tidak bersekolah, Hanafi. Engkau sendiri tak boleh berlaku serupa itu, karena perbuatan serupa itu, bagi orang yang serupa engkau, boleh dinamakan kerendahan budi’. Novel berjudul ”Pertemuan Jodoh” tersebut merupakan salah satu karya sastra angkatan 20-an yang disebut pula dengan angkatan Balai Pustaka. Berdasarkan kutipan novel tersebut, terdapat salah satu ciri angkatan 20-an, yaitu bersifat mendidik dan mengajar. Kutipan novel tersebut menggambarkan kebiasaan orang Melayu yang kurang baik, yaitu meninggalkan dan menelantarkan istri dan anak, serta membina keluarga baru di tempat perantauan. Pendidikan yang ingin disampaikan oleh novel tersebut ialah kesetiaan terhadap keluarga. Latihan Bacalah kutipan novel berikut dan kerjakan pelatihan yang menyertainya! Pulang dari Sekolah Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang memancar dari atas dan timbuh dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih. Seorang dari anak muda ini ialah anak laki-laki yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana pendek hitam, yang terkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutra hitam pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas, yang dipukul-pukulkannya ke betisnya. Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa; karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi nyata kelihatan alis matanya yang tebal dan hitam pula. Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati, tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak yang mampu dan tertib, sopannya menyatakan anak seorang yang berbangsa tinggi. Teman anak muda ini ialah seorang anak perempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang hitam dan tebal itu dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutra, dan diberinya pula berpita hitam di ujungnya. Gaumnya baju nona-nona terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu dan kausnya, coklat warnanya. Dengan tangan kirinya dipegangnya sebuah batu tulis dan sebuah kotak yang berisi anak batu, pensil, pena, dan lain-lain sebagainya; dan di tangan kanannya adalah sebuah payung sutra kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau. Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri sedemikian! Seakan- akan dagang yang rawan, yang bercintakan sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Pipinya sebagai pauh dilayang, yang kemerah-merahan warnanya kena bayang baju dan payungnya, bertambah merah rupanya, kena panas matahari. Apabila ia tertawa cekunglah kedua pipinya, menambahkan manis rupanya; istimewa pula karena pada pipi kirinya ada tahi lalat yang hitam. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan di antara kedua bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagai dua baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak, yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air embun. Di lehernya yang jenjang tergantung pada rantai emas yang halus sebuah hati-hati yang bermatakan permata delima. Jika ia minum, seakan-akan terbayangkan air yang diminumnya di dalam kerongkongannya. Suaranya lemah lembut bagai buluh perindu, memberi pilu yang mendengarnya. Dadanya bidang, pingganggnya ramping. Lengannya dilingkari gelang ular-ular, yang bermatakan beberapa butir berlian yang bernyala-nyala sinarnya. Pada jari manis tangan kirinya yang halus itu kelihatan sebentuk cincin mutiara yang besar matanya. Kakinya baik tokohnya dan jalannya lemah gemulai. Menurut bangun tubuh, warna kulit dan perhiasan gadis ini, nyatalah ia bangsa anak negeri di sana; anak orang kaya atau orang yang berpangkat tinggi. Barangsiapa memandangnya, tak dapat tiada akan merasa tertarik oleh sesuatu tali rahasia, yang mengikat hati, dan jika mendengar suaranya, terlalailah daripada sesuatu pekerjaan. Sekalian orang bersangka, anak ini kelak, jika telah sampai umurnya niscaya akan menjadi sekuntum bunga, kembang Kota Padang, yang semerbak baunya sampai ke mana-mana, menjadikan asyik berahi segala kumbang dan rama-rama yang ada di sana. “Apakah sebabnya Pak Ali hari ini terlambat datang? Lupakah ia menjemput kita?” demikianlah tanya anak laki-laki tadi kepada temannya yang perempuan, sambil menoleh ke jalan yang menuju ke pasar Kampung Jawa. “Ya, biasanya sebelum pukul satu ia telah ada di sini. Sekarang, cobalah lihat! Jam di kantor telepon itu sudah hampir setengah dua,” jawab anak perempuan yang di sisinya. “Jangan-jangan ia tertidur karena mengantuk; sebab tadi malam ia minta izin kepada ayahku, pergi menonton komidi kuda. Kalau benar demikian, tentulah kesalahannya ini akan kuadukan kepada ayahku,” kata anak laki-laki itu pula, sebagai marah rupanya. “Ah, jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua bekerja pada ayahmu, melainkan telah bertahun-tahun. Dan di dalam waktu yang sekian lamanya itu belum ada ia berbuat kesalahan apa-apa. Bagaimanakah rasanya kalau kita sendiri sudah setua itu masih dimarahi juga? Pada sangkaku, tentulah ada alangan apa-apa padanya. Jangan-jangan ia mendapat kecelakaan di tengah jalan. Kasihan orang tua itu! Lebih baik kita berjalan kaki saja perlahan-lahan, pulang ke rumah; barangkali di tengah jalan kita bertemu dengan dia kelak,” kata anak perempuan itu pula seraya membuka payum sutranya dan berjalan perlahan-lahan ke luar pekarangan rumah sekolah. “Ya, tetapi aku lebih suka naik bendi daripada berjalan kaki, pulang ke rumah, sebab aku amat lelah rasanya dan hari amat panas. Lihatlah mukamu telah merah sebagai jambu air, kena panas matahari,” jawab anak laki-laki itu seakan-akan merengut, tetapi diikutinya juga temannya yang perempuan tadi. “Benar hari panas, tetapi tak mengapa. Kaulihat sendiri, aku ada membawa pay- ing yang boleh kita pakai bersama-sama. Merah mukaku ini bukan karena panas semata- mata, melainkan memang sejak dari sekolah sudah merah juga.” “Apa sebabnya? Barangkali engkau dimarahi gurumu,” tanya Sam, demikianlah nama anak laki-laki itu, sambil memandang kepada temannya. “Bukan begitu, Sam, hanya… O, itu Pak Ali datang!” Tiada berapa lama kemudian berhentilah di muka anak muda ini sebuah bendi yang ditarik oleh seekor kuda Batak. Rupanya kuda ini telah lama dipakai karena badannya basah dengan peluh. Di atas benda ini duduk seorang kusir, yang umurnya kira-kira 45 tahun, tetapi badannya masih kukuh. Pada air mukanya nyata kelihatan bahwa ia seorang yang lurus hati dan baik budi, walaupun ia tiada remaja lagi. “Pak Ali, mengapa terlambat datang menjembut kami? Tahukah bahwa sekarang ini sudah setengah dua? Setengah jam lamanya kami harus berdiri di bawah pohon ketapang, sebagai anak ayam ditinggalkan induknya,” kata Sam seakan-akan marah, sambil menghampiri bendi yang telah berhenti itu. “Engku muda, janganlah marah! Bukannya sengaja hamba terlambat. Sebagai biasa, setengah satu telah hamba pasang bendi ini untuk menjemput Engku Muda. Tetapi Engku Penghulu menyuruh hamba pergi sebentar menjemput engku Datuk Meringgih karena ada sesuatu yang hendak dibicarakan. Kebetulan Engku Datuk itu tak ada di tokonya sehingga terpaksa hamba pergi ke Ranah, mencarinya di rumahnya. Itulah sebabnya terlambat hamba datang, jawab kusir tua itu dengan sabar. Sumber Sitti Nurbaya karya Marah Rusli Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan berdiskusi kelompok! 1. Siapa saja tokoh dalam kutipan novel tersebut! 2. Jelaskan setting latar dalam kutipan novel tersebut! 3. Apakah yang mereka gunakan sebagai alat transportasi pulang-pergi ke sekolah? 4. Mengapa Pak Ali terlambat menjemput? 5. Berapa jam mereka menunggu jemputan Ubahlah kata/kelompok kata berikut dengan kata/kelompok kata yang umum digunakan saat ini! 1. Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda, bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang. 2. Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri sedemikian. 3. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. 4. Sekalian orang bersangka, anak ini kelak, jika sampai umurnya, niscaya akan menjadi sekuntung bunga. 5. Ah, jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan baru sehari dua bekerja pada ayahmu, melainkan bertahun-tahun.

kutipan novel angkatan 20 30an